B. KELEBIHAN BULAN RAMADHAN
Ramadhan adalah bulan yang mulia yang padanya ada kebaikan dan keberkatan. Allah dan Rasul r telah menjelaskan kelebihan bulan ini, antaranya :
1. Bulan yang diturunkan padanya Al-Quran :
Allah berfirman :
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآَنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْه ﴾ ﴿
Maksudnya : " Bulan ramadhan, bulan yang diturunkan padanya (permulaan) Al-Quran sebagai
petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeza (antara haq dan
batil), barang siapa antara kamu yang hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah
dia berpuasa pada bulan itu.." [Al-Baqarah : 185]
2. Bulan yang padanya ada Lailatul Qadr :
Allah berfirman :
إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ (1) وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ (2) لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ ﴾ ﴿
Maksudnya : " Sesungguhnya, kami telah menurunkannya (Al-Quran) pada lailatul qadr. Dan tahukah kamu apakah lailatul qadr itu? Lailatul Qadr itu adalah lebih baik dari seribu bulan " [Al-Qadr : 1-3]
3. Bulan yang padanya dibelenggu syaitan, dibuka pintu-pintu syurga, ditutup pintu-pintu neraka
Nabi r bersabda :
[ إذا جاء رمضان ؛ فتحت أبواب الجنة، وغلقت أبواب النيران، وصفدت الشياطين ]
Maksudnya : " Apabila tiba ramadhan; telah dibuka pintu-pintu syurga, telah ditutup pintu-pintu neraka dan dibelenggu syaitan-syaitan " [HR Al-Bukhari : 3277, Muslim : 1079]
C. KELEBIHAN BERPUASA DI BULAN RAMADHAN
1. Puasa di Ramadhan menjanjikan pengampunan dosa :
Nabi r bersabda :
[ من صام رمضان إيمانا و احتسابا، غفر له ما تقدم من ذنبه ]
Maksudnya : " Barang sesiapa yang yang berpuasa ramadhan kerana didorong oleh iman dan
mengharapkan keredhaan Allah, maka diampunkan baginya dosa-dosanya yang lalu " [HR Al-Bukhari : 38, Muslim : 175]
2. Puasa di Ramadhan menjanjikan syurga :
Nabi r bersabda :
[ من آمن بالله وبرسوله وأقام الصلاة وصام رمضان كان حقا على الله أن يدخله الجنة ]
Maksudnya : " Barang siapa yang beriman dengan Allah dan Rasul-Nya, dan mendirikan solat, dan
berpuasa di bulan ramadhan, maka telah layak baginya untuk dimasukkan oleh Allah ke dalam syuga "
[HR Al-Bukhari : 2637]
Download E-Book Petunjuk Puasa Nabi oleh Ustaz Fathul Bari. http://www.mediafire.com/?2dgvbzgwntm

“ Hai manusia, sembahlah Rabb-mu Yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertaqwa. (21). Dialah Yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezeki untukmu; oleh kerana itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, sedangkan kamu mengetahui “. (22). [al-Baqarah: 21-22]
Kaitan antara ayat ini dan sebelumnya
Bahawa ketika Allah menyentuh tentang orang-orang mukmin yang beruntung dan orang-orang kafir yang rugi, Dia Ta’ala menyentuh pula tentang kaum Munafiqin yang berada di antara posisi kedua golongan di atas, kemudian dengan cara iltifat (pengalihan), Dia Ta’ala menyeru seluruh mereka dengan ungkapan “an-Naas” (manusia) sehingga menjadi seruan umum bagi manusia semuanya di setiap tempat dan masa, dan memerintahkan mereka agar beribadah kepadaNya untuk menjaga diri mereka dari kerugian.
Tafsirannya
(21). (Yaa Ayyuhannaasu’budu rabbakumulladzi khalaqakum: Hai manusia, sembahlah Rabb-mu Yang telah menciptakanmu); disini, Allah mengkhususkan ni’matul khalq (nikmatNya yang dianugerahkan kepada manusia berupa penciptaan mereka-red) dan memperbanyak dalam menyebut anugerahNya tersebut atas mereka kerana seluruh nikmat-nikmatNya merupakan tindak lanjut darinya (ni’matul khalq). Nikmat tersebut merupakan sumber utama yang tanpanya tidak akan ada sesuatupun dari nikmat-nikmat tersebut. Demikian pula, orang-orang kafir mengakui bahawa Allah adalah al-Khaliq , sebagaimana dalam ayat: (Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka:"Siapakah yang menciptakan mereka, nescaya mereka menjawab:"Allah"…, [QS. 43/az-Zukhruf:87] ) ; disini juga, Dia Ta’ala memperbanyak dalam menyebut anugerahNya atas mereka berupa sesuatu yang mereka sendiri mengakuinya dan tidak pernah mengingkarinya (Zub).
(walladziina min qablikum la’allakum tattaquun: dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertaqwa); dengan menjadikan sesuatu yang dapat menjaga mereka dari ‘azab Allah, yaitu berupa keimanan dan amal yang shalih setelah meninggalkan kesyirikan dan semua kemaksiatan. (Ays)
(22). (alladzii ja’ala lakumul ardha firaasyaa: Dialah Yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu) ; yakni tempat mereka memijakkan kaki dan menetap diatasnya. Dan juga menjadikan ( as-Samaa-a binaa-a : langit sebagai atap) ; seperti kubah yang dipasang di atas mereka dan atap rumah yang mereka tinggali, kemudian Dia Ta’ala memperbanyak dalam menyebut anugerahNya atas mereka berupa turunnya hujan dari langit. (fa-akhraja bihii minatstsamaraati rizqan lakum : lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezeki untukmu) ;
yakni, Kami hasillkan bagi kamu berbagai jenis buah-buahan dan tumbuh-tumbuhan agar menjadi sarana bersenang-senang untuk beberapa waktu. (falaa taj’aluu lillaahi andaada : kerana itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah) ; yakni, janganlah kamu menjadikan bagiNya sekutu-sekutu yang kamu sembah sebagaimana kamu menyembahNya. (wa antum ta’lamuun : padahal kamu mengetahui) ; bahawa sekutu-sekutu itu tidak menciptakan kamu, tidak menjadikan bumi sebagai hamparan, langit sebagai atap, serta tidak menghasilkan bagi kamu tetumbuhan. (Zub)
Petunjuk ayat
Diantara petunjuk kedua ayat diatas adalah:
• Wajibnya beribadah kepada Allah Ta’ala kerana ia (ibadah) merupakan ‘illat adanya kehidupan secara keseluruhan *
• Wajibnya ma’rifatullah Ta’ala ** (mengenal Allah Ta’ala) melalui asmaNya (Nama-namaNya) dan sifat-sifatNya
• Haramnya segala bentuk kesyirikan; syirik kecil, besar, yang nampak dan tersembunyi. (Ays)
* Hal itu berdasarkan hadits yang diriwayatkan dari Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam bahawa beliau bersabda: “Allah Ta’ala berfirman: ‘wahai anak cucu Adam! Sungguh Aku telah menciptakan segala sesuatu kerana-Ku, dan Aku menciptakanmu juga kerana-Ku ‘; yakni untuk beribadah kepadaNya. Dalam al-Qur’anul Karim, Allah berfirman: “Dan tidaklah Aku ciptakan bangsa jin dan manusia melainkan untuk menyembah-Ku”. (Ays)
** sebab sejauhmana seorang hamba takut Kepada-Nya dan mencintai-Nya berkait dengan ma’rifatullah Ta’ala melalui asmaNya dan sifat-sifatNya. (Ays)
http://alsofwah.or.id/index.php?pilih=lihatquran&id=12

“Perumpamaan mereka adalah seperti orang yang menyalakan api, maka setelah api itu menerangi sekelilingnya. Allah hilangkan cahaya (yang menyinari) mereka, dan membiarkan mereka dalam kegelapan, mereka tidak dapat melihat. (17). Mereka pekak, bisu, dan buta, maka tidaklah mereka akan kembali (ke jalan yang benar), (18). Atau seperti (orang-orang yang ditimpa) hujan lebat dari langit disertai gelap gelita, guruh dan kilat; mereka menyumbat telinganya dengan anak jarinya, kerana (mendengar suara) petir, kerana takut akan kematian. Dan Allah meliputi orang-orang yang kafir. (19). Hampir-hampir kilat itu menyambar penglihatan mereka. Setiap kali kilat itu menyinari mereka, mereka berjalan di bawah sinar itu, dan bila gelap menimpa mereka, mereka berhenti. Jikalau Allah menghendaki, nescaya Dia melenyapkan pendengaran dan penglihatan mereka. Sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu”. (20). [Q.,s. 2/al-Baqarah: 17-20)
Tafsirannya
(17). Perumpamaan keimanan yang ditunjukkan oleh orang-orang Munafiq dengan kekufuran yang mereka sembunyikan, adalah seperti orang yang menyalakan api untuk dijadikan sebagai unggun untuk menerangi mereka, namun tatkala api itu menerangi sekeliling mereka dan mereka merasai manfaat daripadanya, Allah hilangkan cahaya (yang menyinari) mereka tersebut, dan membiarkan mereka di dalam kegelapan dan keadaan tidak melihat; kerana dengan keimanan yang mereka tampakkan, mereka telah menjaga darah, harta, isteri-isteri serta keturunan mereka daripada pembunuhan dan perhambaan sedangkan dengan kekufuran yang mereka sembunyikan apabila mereka mati, maka mereka akan masuk neraka dan rugi dalam segala hal hingga diri mereka sendiri [Ays]. (matsaluhum ka matsalil lazis tauqada naara: Perumpamaan mereka adalah seperti orang yang menyalakan api …);
Diriwayatkan daripada Ibnu ‘Abbas dan beberapa shahabat mengenai ayat ini, mereka berkata: “Sesungguhnya ada beberapa orang yang masuk Islam ketika Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam datang ke Madinah, namun kemudian mereka menjadi orang-orang yang munafiq; mereka diumpamakan seperti seorang lelaki yang berada dalam kegelapan, kemudian dia menyalakan api sehingga menerangi gangguan-gangguan yang ada di sekelilingnya yang dapat menyakitinya, lantas dia dapat melihatnya (gangguan-gangguan tersebut) dan tahu bagaimana dia dapat menjaga diri daripadanya. Tatkala dia dalam keadaan demikian, api pun padam sehingga dia tidak tahu bagaimana dia dapat menjaga dirinya dari gangguan-gangguan yang dapat menyakitinya tersebut. Demikian pula halnya dengan orang Munafiq; dia berada dalam kegelapan syirik, kemudian masuk Islam dan mengetahui mana yang halal dan haram, yang baik dan buruk namun kemudian dalam keadaannya yang demikian dia kembali kepada kekufuran sehingga dia tidak tahu lagi mana yang halal dan haram serta mana yang baik dan buruk”. [Zub]
(18). (Shummun bukmun ‘umyun fahum laa yarji’uun: Mereka pekak, bisu, dan buta, maka tidaklah mereka akan kembali (ke jalan yang benar) ; maksudnya, tinggallah pemilik-pemilik api yang menyinar dan telah padam tersebut menjadi orang yang tuli dan tidak dapat mendengar seruan orang, bisu dan tidak dapat menanyakan jalan (yang benar), buta dan tidak dapat melihatnya serta tidak boleh kembali kepada jalan mereka semula; demikian pula halnya dengan orang-orang Munafiq yang telah masuk Islam kemudian kembali kepada kekufuran. [Zub]
(19). (Au ka-shayyibin minas samaa’: Atau seperti (orang-orang yang ditimpa) hujan lebat dari langit); yang dimaksud dengan ash-Shayyib adalah al-Mathar (hujan yang lebat); Allah menjadikannya sebagai perumpamaan bagi al-Qur’an kerana ia turun dengan hal yang menakutkan orang-orang Munafiq. [Zub] (fiihi zhulumaatun wa ra’dun wa barqun : disertai gelap gelita, guruh dan kilat) ; hal itu semua merupakan peringatan-peringatan al-Qur’an.[Zub] (yaj’aluuna ashaabi’ahum fii aazaanihim minash shawaa’iqi hazaral maut: mereka menyumbat telinganya dengan anak jarinya, kerana (mendengar suara) petir, sebab takut akan mati); ertinya, mereka menjaga diri mereka dari bahaya dengan sesuatu yang tidak dapat menjaga diri mereka, demikian pula dengan orang-orang Munafiq; mereka hanya boleh menutup telinga mereka agar tidak mendengar ayat-ayat al-Qur’an. [Ays] (wallaahu muhiithun bil kaafiriin: Dan Allah meliputi orang-orang yang kafir); makna “al-ihaathah” adalah mengambil sesuatu dari segala sisi sehingga tidak ada lagi yang terlepas. [Zub]
(20). (yakaadul barqu yakhthafu abshaarahum: Hampir-hampir kilat itu menyambar penglihatan mereka); hampir-hampir ayat-ayat al-Qur’an yang muhkam (yang jelas dan tidak samar lagi-red) menunjukkan aib-aib orang-orang Munafiq. [Ays] (kullamaa adhaa-a lahum masyau fiihi: Setiap kali kilat itu menyinari mereka, mereka berjalan di bawah sinar itu); ertinya, jika mereka memiliki banyak harta, anak-anak serta mereka mendapatkan ghanimah (harta rampasan) dan melakukan penaklukan, maka mereka mengambil bahagian dan terus jalan seraya berkata: ‘kalau begitu, sesungguhnya agama Muhammad Shallallahu 'alaihi wasallam adalah benar’, [Zub] (wa idzaa azhlama ‘alaihim qaamu : dan bila gelap menimpa mereka, mereka berhenti); jika harta-harta mereka musnah dan mereka ditimpa bencana; mereka berkata:’ini semua demi agama Muhammad Shallallahu 'alaihi wasallam ‘, lalu mereka kemudian murtad dan kembali kepada kekufuran.[Zub] (wa-lau syaa Allaahu la-zahaba bisam’ihim wa abshaarihim. Innallaaha ‘alaa kulli syai-in qadiir : Jikalau Allah menghendaki, nescaya Dia melenyapkan pendengaran dan penglihatan mereka. Sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu); dan jika Allah menghendaki nescaya Dia Ta’ala akan melenyapkan pendengaran dan penglihatan mereka sebab Dia Ta’ala Maha Kuasa atas segala sesuatu. Demikianlah keadaan orang-orang Munafiq padahal al-Qur’an turun dan menyentuh tentang kekufuran, yakni berupa azh-Zhulumaat (kegelapan), menyentuh tentang al-Wa’iid (ancaman), yakni berupa petir dan guntur, menyentuh tentang hujjah-hujjah dan penjelasan-penjelasan, yakni berupa kilat dengan kekuatan cahayanya. Mereka takut al-Qur’an turun dan menyingkap keburukan dimana mereka berlindung di sebaliknya sehingga membuat mereka dihukum; bila ada ayat turun dan tidak menyentuh serta membicarakan mereka, mereka terus berjalan dalam keimanan mereka yang hanya secara zhahir, dan bila ada ayat-ayat turun dan mengecam kebathilan dan apa yang mereka lakukan mereka berdiri dalam keadaan bingung; tidak dapat melangkah maju atau mundur; bila Allah menghendaki untuk mengambil/melenyapkan pendengaran-pendengaran dan penglihatan-penglihatan mereka nescaya Dia dapat melakukannya kerana Dia merupakan Ahlinya dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. [Ays].
Petunjuk ayat
• memaparkan permisalan-permisalan untuk memudahkan kefahaman adalah sesuatu yang baik.
• Ahli kebathilan akan selalu gagal dalam usaha mereka dan akan menanggung akibat perbuatan mereka tersebut.
• Dengan al-Qur’an hati akan hidup sebagaimana bumi hidup dengan adanya air.
Orang-orang Munafik adalah seburuk-buruk golongan orang-orang kafir.
http://alsofwah.or.id/index.php?pilih=lihatquran&id=11
Berkata Imam Hasan al-Basri rahimahullah:
7 Bab di dalam surah al-Fatihah
a) Bab mengenal tuhan - Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah Lagi Maha Penyayang.
-> Lafaz basmalah mengajar kita untuk mengenal Allah melalui Nama dan Sifat-SifatNya.
-> Ia bertujuan agar kita dapat bertawassul dengan nama-nama dan sifat Allah tersebut. Ia bermaksud kita menjadikan ia wasilah untuk menyampaikan diri kita kepada Allah.
Analogi:
Tatkala kita meminta kepada seseorang yang berpangkat Tan Sri, lalu kita menyebut pangkatnya. Maka bagi Allah lebih layak hal yang sedemikian rupa. Hendaklah kita banyakkan berdoa dengan bertawassul dengan Nama-Nama dan Sifat-Sifat Allah. Contohnya: "Ya Allah Yang Maha Pengampun, ampunilah dosa-dosaku" dan sebagainya. Di dalam doa ini kita bertawassul dengan Sifat Pengampun Allah.
2) Mensyukuri nikmat Allah- Segala puji bagi Allah Pentadbir seluruh alam.
-> Ayat ini mengajar kita untuk bersyukur kepada Allah yang mentadbir seluruh alam.
-> Jika diamati setiap ayat-ayat al-Quran yang berkaitan dengan ilmu-ilmu sains, ia semua bertujuan untuk membesarkan Allah.
-> Hakikatnya, wahyu bukanlah diturunkan untuk membenarkan fakta-fakta sains.
-> Sebaliknya sains hanyalah salah satu ilmu untuk membantu kita mengenal Allah dengan melihat kepada ciptaanNya.
-> Hendaklah kita mempelajari ilmu sains untuk melahirkan rasa syukur kepada Allah.
3) Percaya, yakin dan berserah kepada Allah- Yang Maha Pemurah Lagi Maha Penyayang
-> Ayat ini menerangkan bahawa kita hendaklah percaya, yakin dan berserah kepada Allah.
-> Allah Mentadbir alam ini dengan sifat Ar-Rahman dan Ar-Rahim.
-> Tidak kira musibah atau nikmat yang diberikan, ia semua di bawah sifat Pemurah dan Penyayangnya.
Analogi: Seorang ibu yang menyayangi anak kecilnya, akan memaksa anak kecilnya meminum ubat untuk mengubati sakitnya. Walaupun ketika itu si anak boleh jadi terfikir 'musibah apakah ini!' lantaran pahitnya ubat yang dipaksa untuk ditelan, lantaran kerasnya desakan si ibu. Tetapi si ibu melakukannya atas dasar kasih sayang kepada si anak. Lalu, Allah lebih daripada itu. Pemurah dan Penyayang Allah melebihi sayang dan pemurahnya makhluk. Lalu musibah atau nikmat, kesemuanya adalah untuk kebaikan makhluk-makhluknya.
4) Kehidupan dunia hanya sementara, hidup di akhirat kekal abadi - Yang Menguasai hari pembalasan.
-> Manusia ramai menyangka mereka memiliki kehidupan di dunia, sedangkan ia sementara sahaja.
-> Allah menyebutkan Ia memiliki hari akhirat kerana ia sesuatu yang selama-lamanya. Hakikatnya Allah memiliki kesemua dunia mahupun akhirat.
-> Ia mengajar kita untuk mengejar akhirat yang kekal abadi, bukan dunia yang sementara.
5) Bab memilih jalan yang selamat- Hanya Engkau yang kami sembah, dan hanya Engkau kami pohon pertolongan.
-> Inilah jalan yang sejahtera, iaitu dengan hanya menyembah Allah semata-mata dan hanya meminta pertolongan kepadaNya.
6) Hidup kita ini dipandu oleh Allah, hendaklah kita mengikuti panduan- Tunjukkanlah kami jalan yang lurus
-> Kita semua memerlukan hidayah Allah kerana di dalam hidup ini kita memerlukan petunjuk daripada Allah dalam segala hal.
-> Berkata seorang ulama' tidak ada permohonan yang lebih besar daripada permohonan memohon hidayah.
-> Hendaklah di dalam hidup kita sesntiasa memohon hidayah Allah.
7) 3 Kategori kehidupan manusia
a) Mendapat nikmat
b) Dimurkai Allah
c) Sesat
Wallahua'lam.
قال تعالى: وَإِذَا لَقُوا الَّذِينَ ءَامَنُوا قَالُوا ءَامَنَّا وَإِذَا خَلَوْ إِلىَ شَيَاطِيْنِهِمْ قَالُوا إِنَّا مَعَكُمْ إِنَّمَا نَحْنُ مُسْتَهْزِءُوْنَ {14} اللَّهُ يَسْتَهْزِئُ بِهِمْ وَيَمُدُّهُمْ فِي طُغْيَانِهِمْ يَعْمَهُونَ {15} أُولَـئِكَ الَّذِينَ اشْتَرَوُا الضَّلاَلَةَ بِالْهُدَى فَمَا رَبِحَتْ تِجَارَتُهُمْ وَمَا كَانُوْا مُهْتَدِيْنَ {16}“Dan bila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka mengatakan: ‘Kami telah beriman’. Dan bila mereka kembali kepada syaitan-syaitan mereka, mereka mengatakan: ’Sesungguhnya kami bersama kamu, kami hanyalah berolok-olok’(14). Allah akan (membalas) olokan-olokan mereka dan membiarkan mereka terumbang-ambing dalam kesesatan mereka (15). Mereka itulah yang membeli kesesatan dengan petunjuk, maka tidaklah beruntung perniagaannya dan tidaklah mereka mendapat petunjuk”(16). {Q.,s.2/al-Baqarah: 14-16}.Tafsirannya
Ayat-ayat di atas masih menyentuh masalah orang-orang Munafiq dan keadaan mereka:
(14). Bahawa mereka, disebabkan kemunafikan dan kebusukan (hati) mereka; apabila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman di suatu tempat, mereka memberitahu mereka bahawa mereka beriman kepada Allah dan Rasul serta agama yang di bawa oleh baginda salallahu 'alaihi wasallam (Ays), (dan apabila mereka kembali) kepada pemimpin-pemimpin mereka yang selalu merencanakan kejahatan ke dalam kekufuran; (mereka mengatakan: ‘sesungguhnya kami bersama dengan kamu…’); konsekuen dalam kekufuran (…kami hanyalah berolok-olok) terhadap orang-orang yang beriman dalammenzahirkan sikap kami tersebut padahal dalam bathin kami sama sekali tidak sependirian dengan mereka, ataupun cenderung kepada mereka (Zub).
(15). (Allah akan (membalas) olokan-olokan mereka…) yakni dengan menimpakan kenistaan dan kehinaan kepada mereka, dendam terhadap mereka serta merendahkan martabat mereka sebagai keMaha AdilanNya terhadap hamba-hambaNya yang beriman (dan membiarkan mereka); Dia memberi tangguh kepada mereka (…terumbang-ambing dalam kesesatan mereka); dalam kekufuran yang mereka berkeras untuk terus tenggelam di dalamnya (Zub).
(16). (Mereka itulah yang membeli kesesatan dengan petunjuk…) yakni mereka menggantikan petunjuk tersebut dengan kesesatan. Sebab kata adh-Dhalaalah ertinya adalah keraguan, menyimpang dari tujuan dan kehilangan petunjuk (maka tidaklah beruntung perniagaannya…) yakni mereka tidak memperoleh untung dalam perniagaan mereka kerana mereka mengikuti kekufuran berbanding keimanan (dan tidaklah mereka mendapat petunjuk) dalam tindakan mereka membeli iman dengan kekufuran dan keluarnya mereka dari petunjuk menuju kesesatan, dari jama’ah/persatuan menuju perpecahan, dari rasa aman menuju rasa takut serta dari (mengamalkan) sunnah menuju (perbuatan) bid’ah (Zub).
Petunjuk Ayat
* Kecaman dan peringatan terhadap orang-orang Munafiq dan tingkah laku mereka yang selalu merubah wajah dalam menghadapi orang; terkadang dengan wajah yang ini dan terkadang dengan wajah yang lain. Dalam sebuah hadis di katakan: “sejahat-jahat kalian adalah orang yang bermuka dua”. (H.R. al-Bukhari dan Muslim).
* Sesungguhnya di antara manusia terdapat syaitan-syaitan yang mengajak kepada kekufuran dan perbuatan-perbuatan maksiat, menyeru berbuat kemungkaran dan melarang berbuat kebajikan/ma’ruf.
Penjelasan tentang hukuman-hukuman Allah yang akan di timpakan kepada musuh-musuhNya ‘Azza wa Jalla. (Ays)
http://alsofwah.or.id/index.php?pilih=lihatquran&id=10
الْمُفِسِدُونَ وَلَـكِن لاَّ يَشْعُرُونَ {12} وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ ءَامِنُوا كَمَا ءَامَنَ النَّاسُ قَالُوا أَنُؤْمِنُ كَمَاءَامَنَ السُّفَهَاءُ أَلاَ إِنَّهُمْ هُمُ السُّفَهَاءُ وَلَكِن لا َيَعْلَمُونَ {13}Tafsirannya
Ayat 11: Allah memberitahu tentang orang-orang Munafiq bahawa bila salah seorang dari orang-orang beriman berkata kepada mereka : ‘janganlah berbuat kerosakan di muka bumi… (Ays).
Dengan berbuat kemunafikan, setia terhadap orang-orang kafir serta berusaha memisahkan manusia dari beriman kepada Muhammad Shallallahu 'alaihi wasallam dan Al-Qur’an ; jika kalian melakukan hal itu maka akan terjadi kerosakan di muka bumi berupa binasanya jasad-jasad dan porak porandanya rumah-rumah (Zub). Mereka akan menjawab seraya berkata: ‘sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berbuat kebaikan (kaum reformis), menurut pengakuan mereka. (Ays)
Ayat 12: maka Allah membatalkan pengakuan ini dan menetapkan bahawasanya merekalah satu-satunya orang-orang yang melakukan kerosakan bukan orang-orang beriman yang menentang mereka, namun demikian mereka tidak mengetahui hal itu lantaran hati mereka telah di kuasai oleh kekufuran (Ays).
Manakala Allah telah melarang mereka dari berbuat kerosakan, mereka menjadi kan sifat ash-Shalah (yang hanya boleh terealisasi dengan iman yang shahih dan amal shalih-Ays) hanya khusus bagi mereka saja, maka Allah memberikan jawapan yang amat tegas, yaitu mengembalikan kepada mereka sifat kerosakan tersebut yang sebenarnya khusus di miliki oleh mereka, akan tetapi mereka tidak menyedari bahawa mereka adalah ahlul fasad (pelaku kerosakan) yang sebenarnya kerana prilaku mereka yang memusuhi kebenaran dan orang-orang yang berjalan di atasnya serta perilaku merintangi jalan Allah (Zub).
Ayat 13: Allah juga memberitahu tentang mereka bahawa bila salah seorang dari orang-orang beriman berkata kepada mereka: ‘bersungguh-sungguhlah dalam keimanan kalian dan berimanlah seperti keimanan si fulan dan si fulan seperti Abdullah bin Salam’ ; mereka akan menjawab seraya berkata: ‘apakah kami mesti beriman seperti keimanan as-Sufaha’ (jamak dari as-Safah yaitu orang yang akalnya tipis, tidak dapat mennguruskan suatu urusan dan mengaturnya dengan baik) yang tidak memiliki kejernihan berfikir dan bashirah (Ays).
Mereka menisbatkan as-Safah kepada orang-orang beriman dengan penuh ejekan dan pelecehan sehingga hal itu menyebabkan mereka di catatkan oleh Allah sebagai orang yang memiliki sifat tersebut dan membatasi sifat tersebut dan ketipisan akal hanya buat mereka. (Zub). ….. maka Allah mengembalikan pengakuan tersebut dan menetapkan sifat as-Safah kepada mereka dan menafikannya dari orang-orang memiliki keimanan yang sungguh-sungguh (al-Mukminun ash-Shadiqun) serta (sebaliknya) menyifati mereka dengan sifah bodoh/jahil dan tidak memiliki ilmu pengetahuan (Ays).
Petunjuk ayat
Mencela yang penuh kedustaan dan sifat ini biasanya hanya merupakan salah satu sifat orang-orang Munafik.
Berbuat kebaikan (al-Ishlah) di muka bumi hanya dapat di realisasikan dengan mengamalkan ketaatan kepada Allah dan RasulNya, sedangkan berbuat kerosakan (al-Ifsad) di atasnya akan terjadi melalui perbuatan maksiat kepada Allah dan RasulNya.
Para pelaku kerosakan di muka bumi selalu berdalih bahawa kerosakan yang mereka lakukan adalah suatu bentuk berbuat kebaikan (al-Ishlah) bukan kerosakan (al-Ifsad)..[Ays].
http://alsofwah.or.id/index.php?pilih=lihatquran&id=9

Kaitan/munasabah antara ayat ini dan ayat sebelumnya
Ketika Allah Ta’ala (pada ayat sebelumnya) menyentuh tentang orang-orang Mukmin sejati (sempurna imannya) kemudian dilanjutkan dengan kelompok yang kontra dengan mereka yaitu orang-orang Kafir sejati (yang berlebih-lebihan dalam kekufurannya), maka di sini Dia menyentuh kelompok (ketiga) orang-orang Munafiq yaitu yang dari sisi lahiriah termasuk kelompok orang-orang beriman (Mukminun) sedangkan dari sisi bathiniah termasuk kelompok orang-orang Kafir. Mereka adalah lebih jelek dari orang-orang kafir sejati yang paling jelek sekalipun. (Ays)
Tafsirannya
Ayat 8 : Allah Ta’ala menyentuh tentang orang-orang Mukmin sejati dalam surah ini, kemudian dilanjutkan dengan orang-orang Kafir sejati setelahnya, baru setelah itu menyentuh tentang orang-orang yang bukan dari kedua kelompok sebelumnya bahkan menjadi kelompok ketiga kerana dari sisi lahiriah mereka menyamai kelompok pertama sedangkan dari sisi bathiniah mereka menyamai kelompok kedua. Tetapi meskipun demikian mereka termasuk penghuni neraka yang paling bawah. (Zub)
Ayat 9 : ََيُخَادِعُوْنَ الله : mereka menipu Allah ** dengan menampakkan keimanan dan menyembunyikan kekufuran. (Ays). **
وَمَا يَخْدَعُوْنَ إِلاَّ أَنْفُسَهُمْ : padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri; manakala mereka menipu Yang tidak akan tertipu, maka mereka dengan sendirinya menipu diri sendiri kerana penipuan itu boleh efektif hanya apabila di arahkan terhadap orang yang tidak mengetahui hal-hal yang bersifat bathiniah.(Zub). وَمَا يَشْعُرُوْنَ : mereka tidak mengetahui bahawa akibat dari penipuan yang mereka lakukan tersebut akan menjadi bumerang bagi mereka. (Ays)
Ayat 10 : فىِ قُلُوْبِهِمْ مَرَضٌ : dalam hati mereka ada penyakit.المرض maksudnya kerosakan yang terjadi pada ‘aqidah mereka baik di sebabkan oleh keraguan dan kenifakan, ataupun oleh kejuhudan/keingkaran dan pembangkangan dan pendustaan.(Ays)
فَزَادَهُمُ اللهُ مَرَضًا : lalu di tambah Allah penyakitnya; hal itu selalu terjadi begitu Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam mendapatkan nikmat-nikmat dan anugerah-anugerah dari Allah baik yang bersifat duniawi maupun agamawi. Lantaran itulah mereka selalu di uji dengan keraguan yang selalu bertambah, penyesalan yang selalu menyertai, dan kenifakan yang selalu berlebih-lebihan.(Ays).
بِمَا كَانُوْا يَكْذِبُوْنَ : di sebabkan mereka berdusta; maksudnya dalam pengakuan keimanan mereka padahal mereka bukan termasuk orang-orang beriman (Ays).
Petunjuk Ayat
Peringatan terhadap perbuatan dusta, nifaq dan menipu dan bahawa perbuatan menipu akan menjadi bumerang bagi pelakunya sendiri sebagaiman halnya kejahatan hanya akan melahirkan kejahatan yang sepertinya pula.
Terdapat Qira’at dalam ayat وما يخدعون di mana Imam Nafi’ dan Jumhur membacanya dengan وما يخادعون dengan tambahan alif setelah huruf kha’ sedangkan Imam Hafsh membacanya dengan يخْدعون dengan men-sukun kan (mematikan harakat) huruf kha’.
Munasabah/kaitan kedua ayat tersebut dengan ayat sebelumnya
Ketika Allah Ta’ala menyentuh tentang orang-orang yang beriman, bertaqwa dan orang-orang yang mendapat hidayah serta keuntungan, Di a kemudi an menyentuh tentang orang-orang yang berbuat kekufuran, kesesatan dan mendapatkan kerugian . (Ays)
Tafsirannya
Ayat 6
Sesungguhnya orang-orang yang bersikap keras dalam mengingkari risalahmu wahai Muhammad, serta mengingkari juga ayat-ayat yang jelas yang engkau bawa sedangkan kebenaran bagi mereka sudah jelas di samping tidak adanya syubhat/kesamar-samaran, serta keyakinan mereka bahawa engkau adalah orang yang jujur ; (namun begitu) peringatanmu kepada mereka tidak akan bermanfaat sama sekali bagi mereka kerana mereka hanya mengikuti hawa nafsu mereka belaka. (zub)
Ayat 7
خَتَمَ اللَّهُ عَلَى قُلُوبِهِمْ ; Mereka tidak melihat adanya petunjuk, tidak mendengar, memahami dan mengerti.
Ibnu Jarir berkata: “ Sesungguhnya bila secara terus menerus dosa-dosa melekat di hati maka ia akan menutupnya rapat-rapat, dengan demikian tidak akan ada lagi jalan untuk menggapainya sementara tidak ada jalan keluar pula bagi kekufuran darinya.(zub)
غِشَاوَةٌُ ; maknanya adalah الغطاء iaitu penutup/penyumbat yang menutupi/menyumbat jalan sesuatu yang ingin di cegah agar tidak sampai kepadanya. (Ays)
عَذَابٌُ ; seksaan yang di rasakan sehingga menghilangkan kenikmatan dan kelezatan hidup. (Ays)
Ertinya : Allah Ta’ala memberitahu bahawa mereka tidak sedia untuk beriman. Sama ada wujudnya peringatan terhadap mereka atau tidak wujudnya (peringatan), sama sahaja di sisi mereka, kerana demikianlah sunnatullah pada mereka yang telah mengunci mati hati-hati mereka hingga tidak dapat memahami, dan pendengaran-pendengaran mereka hingga tidak dapat mendengar serta menyumbat/menutupi mata-mata mereka hingga mereka tidak dapat melihat. Yang demikian itu sebagai akibat daripada kesombongan, kebangkangan/keengganan serta kekerasan mereka dalam kekufuran. Oleh kerana itu, mereka layak/wajib mendapatkan azab yang amat dahsyat, untuk kemudian mereka dihukum dengan azab tersebut. Inilah hukum Allah Ta’ala terhadap orang-orang yang membangkang, sombong dan bersikap keras sepanjang masa dan di setiap tempat. (Ays)
Petunjuk Ayat
Penjelasan mengenai sunnatullah terhadap orang-orang yang membangkang, sombong dan bersikap keras (dalam kekufuran) bahawa Allah mengharamkan mereka untuk mendapatkan hidayah yaitu dengan tidak memfungsikan pancaindera mereka hingga mereka tidak dapat memanfaatkannya yang oleh kerananya pula mereka tidak beriman dan mendapat hidayah.
Peringatan terhadap sikap bersikap keras dalam kekufuran, kezhaliman dan berbuat kerosakan di mana hal ini akan mendapatkan balasannya yaitu wajib/layaknya mereka mendapat azab yang besar. (Ays)
Ulama’ berselisih pendapat berhubung bilakah al-Qur’an diturunkan.
Pendapat yang agak masyhur mengemukakan 17 Ramadhan sebagai tarikh nuzul Al-Qur’an. Pendapat ini dipegangi sebahagian ulama’ sirah.
Antara ulama’ sirah yang kuat berpegang kepada pendapat ini ialah Syaikh al-Khudhari dalam karyanya; Muhadharat Tarikh al-Umam al-Islamiyyah.[1] Pendapat ini merujuk kepada suatu riwayat daripada al-Waqidi menerusi Abu Ja’far al-Baqir yang mengatakan bahawa (penurunan ) wahyu kepada Rasulullah s.a.w bermula pada hari Isnin, 17 Ramadhan dan dikatakan pada 24 Ramadhan. Riwayat ini dinyatakan oleh al-Hafiz Ibn Kathir dalam al-Bidayah wa al-Nihayah:
روى الواقدي بسنده عن أبي جعفر الباقر أنه قال: كان ابتداء الوحي إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم يوم الاثنين لسبع عشرة ليلة خلت من رمضان وقيل في الرابع والعشرين منه.[2]
Ada suatu hal yang agak menarik dalam kita membincangkan pendapat yang menyatakan 17 Ramadhan sebagai tanggal nuzul Al-Qur’an. Setelah saya meneliti kitab Sirah Ibn Hisyam berhubung tajuk “ Ibtida’ Tanzil Al-Qur’an” ( Bermulanya nuzul Al-Qur’an ), terdapat semacam satu kekeliruan apabila Ibn Hisyam ada membuat catatan berikut:
قال ابن إسحاق: فابتدئ رسول الله صلى الله عليه وسلم بالتنزيل في شهر رمضان، يقول الله عز وجل: ] شهر رمضان الذي أنزل فيه القرءان هدى للناس وبينت من الهدى والفرقان [ وقال الله تعالى: ] إنا أنزلنه في ليلة القدر … [ ...وقال تعالى: ] إن كنتم آمنتم بالله وما أنزلنا على عبدنا يوم الفرقان يوم التقى الجمعان [. وذلك ملتقى رسول الله صلى الله عليه وسلم والمشركون ببدر.
قال ابن إسحاق: وحدثني أبو جعفر محمد بن علي بن حسين: أن رسول الله صلى الله عليه وسلم التقى هو والمشركون ببدر يوم الجمعة، صبيحة سبع عشرة من رمضان.
قال ابن إسحاق: ثم تتام الوحي إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم، وهو مؤمن بالله مصدق بما جاءه منه ...إلخ[3]
Jika diperhatikan dan dihalusi, kenyataan di atas semacam mengaitkan elemen ‘al-furqan’ yang terdapat dalam al-Qur’an dengan ‘hari al-Furqan’yang membezakan antara haq dan batil yang merujuk kepada hari Peperangan Badr yang berlaku pada 17 Ramadhan. Oleh kerana perkara ini disebut di bawah tajuk “ Ibtida’ Tanzil al-Qur’an”, berkemungkinan ada pihak yang memahami bahawa nuzul Al-Qur’an juga berlaku pada tarikh yang sama.
Pendapat-pendapat lain tentang nuzul Al-Qur’an sebagaimana diutarakan oleh Syaikh Safiyy al-Rahman al-Mubarakfuri, ianya berlaku pada 7 Ramadhan, ada yang mengatakan 18 Ramadhan. Beliau sendiri membuat pilihan dan tarjih yang berbeza dengan ulama’ lain. Menurut beliau, nuzul Al-Qur’an jatuh pada 21 Ramadhan. Antara alasan yang dikemukakan seperti berikut:
1- Semua ulama’ sirah atau majoriti dari kalangan mereka sepakat mengatakan bahawa Nabi s.a.w dibangkitkan pada hari Isnin berdasarkan hadith Abu Qatadah r.a dalam Sahih Muslim dan lain-lain.
2- Hari Isnin pada tahun Nabi s.a.w dibangkitkan jatuh sama ada pada hari 7 Ramadhan, 14 Ramadhan, 21 Ramadhan dan 28 Ramadhan. Hadith-hadith yang sahih ada menyebut bahawa malam al-Qadr tidak berlaku melainkan pada malam-malam ganjil, sepuluh malam terakhir Ramadhan.
3- Setelah dibuat perbandingan antara firman Allah: ( إنا أنزلنه في ليلة القدر ) dan riwayat Abu Qatadah tentang penentuan hari Isnin sebagai hari Nabi s.a.w dibangkitkan serta dipadankan dengan perhitungan taqwim yang tepat bilakah sebenarnya jatuh hari Isnin pada bulan Ramadhan tahun kebangkitan Nabi s.a.w, jelaslah bahawa baginda dibangkitkan pada malam 21 Ramadhan.[4]
Pendapat seterusnya, nuzul Al-Qur’an jatuh pada 24 Ramadhan. Pendapat ini berdasarkan hadith berikut:
قال الإمام أحمد: حدثنا أبو سعيد مولى بني هاشم، حدثنا عمران أبو العوام عن قتادة عن أبي المليح عن واثلة ابن الأسقع أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: أنزلت صحف إبراهيم عليه السلام في أول ليلة من رمضان، وأنزلت التوراة لست مضين من رمضان، والإنجيل لثلاث عشرة خلت من رمضان، وأنزل الله الفرقان لأربع وعشرين خلت من رمضان.[5]
Hadith di atas dihukumkan hasan oleh Syaikh al-Albani, manakala Syaikh Ahmad Shakir menghukumkan sanad hadith ini sebagai sahih.
Menurut al-Hafiz Ibn Hajar, hadith di atas bertepatan dengan firman Allah SWT (Surah al-Baqarah: Ayat 185):
شهر رمضان الذي أنزل فيه القرءان
Dan firmanNya ( Surah al-Qadr : Ayat 1 ) :
إنا أنزلنه في ليلة القدر
Kata beliau, berkemungkinan lailah al-Qadr berlaku pada tahun kebangkitan Nabi s.a.w pada malam tanggal 24 Ramadhan di mana Al-Qur’an diturunkan secara sekali gus ke langit dunia dan pada masa yang sama ( 24 Ramadhan ) wahyu pertama diturunkan, iaitu firman Allah SWT :
اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ [6]
Imam al-Tabari juga ada menyebut satu riwayat dengan sanadnya menerusi Sa’id Bin Jubair daripada Ibn Abbas r.a katanya: Al-Qur’an diturunkan sekali gus dari Lauh Mahfuz pada malam 24 Ramadhan, kemudiannya ia ditempatkan di Bait al-‘Izzah.[7]
Imam al-Qurtubi pula menyebut hadith Wathilah Bin Al-Asqa’ di atas dan menyatakan bahawa hadith tersebut merupakan dalil atau hujah yang terhadap pendapat Hasan al-Basri yang menegaskan bahawa malam al-Qadr berlaku pada malam 24 Ramadhan.[8]
Al-Hafiz Ibn Kathir juga ada membawa hadith Wathilah ini dalam mentafsirkan maksud ayat 185, Surah al-Baqarah, kemudian beliau menyatakan bahawa Ibn Mardawaih juga ada meriwayatkan hadith daripada Jabir Bin ‘Abdullah r.a seumpama hadith Wathilah dengan sedikit perbezaan pada matan hadith berkenaan.[9] Beliau juga ada menyebut hadith ini dalam al-Bidayah wa al-Nihayah dan menyatakan bahawa berdasarkan hadith Wathilah ini, sebahagian ulama’ dari kalangan para sahabat dan tabi’in berpendapat bahawa malam al-Qadr berlaku pada malam 24 Ramadhan.[10]
Turut menyebut hadith Wathilah ,Syaikh Muhammad Nasiruddin al-Albani di mana beliau mengambil hadith ini bagi menjelaskan nuzul Al-Qur’an berlaku pada tanggal 24 bulan Ramadhan.[11]
Kesimpulan yang dapat dibuat setelah meneliti pendapat-pendapat yang dikemukakan di atas berhubung hari nuzul Al-Qur’an seperti berikut :
1- Pendapat yang menyebut nuzul Al-Qur’an jatuh pada 17 Ramadhan bersandarkan riwayat al-Waqidi. Menurut ulama’ al-Jarh wa al-Ta’dil, al-Waqidi ( m. 207 H ), nama penuh beliau: Muhammad Bin Umar Bin Waqid al-Aslami seorang perawi yang lemah ( matruk ) dan tidak diterima riwayatnya[12]. Pendapat ini juga ditolak oleh Syaikh al-Zurqani kerana ia bercanggah dengan pendapat yang masyhur lagi sahih.[13]
2- Pendapat Syaikh Safiyy al-Rahman al-Mubarakfuri yang menyatakan nuzul Al-Qur’an jatuh pada tanggal 21 Ramadhan merupakan cetusan ijtihad beliau semata-mata berdasarkan penelitian beliau terhadap hadith Abu Qatadah dan perkiraan taqwim yang dipegangi beliau. Malam al-Qadr boleh berlaku pada malam-malam genap dan juga boleh berlaku pada malam-malam ganjil di sepuluh hari terakhir Ramadhan.
3- Pendapat yang menyebut bahawa nuzul Al-Qur’an jatuh pada 24 Ramadhan adalah kuat dan rajih. Ini berdasarkan kepada perkara-perkara berikut:
I- Pendapat ini bersandarkan hadith marfu’ yang sahih dan diperakui oleh tokoh-tokoh dalam bidang hadith. Sebagaimana yang termaklum, apa jua permasalahan dalam Agama Islam perlu dirujuk kepada nas Al-Qur’an dan hadith. Dalam hal ini, hadith Wathilah Bin al-Asqa’ adalah rujukan utama dalam menentukan bilakah berlakunya nuzul Al-Qur’an.
II- Matan hadith dengan jelas menyebut bahawa al-Qur’an diturunkan pada 24 Ramadhan.
III- Maksud atau mafhum hadith diterima pakai oleh ulama’ muktabar dari kalangan ahli hadith dan para mufassirin dan dijadikan hujah bagi menetapkan tanggal 24 Ramadhan sebagai tarikh tepat bagi nuzul Al-Qur’an. Rujuk kata-kata al-Hafiz Ibn Hajar, Imam al-Qurtubi dan al-Hafiz Ibn Kathir.
Oleh:
Dr. Ahmad Najib Abdullah – Pensyarah UM, Nilam Puri.
anis_alqari@yahoo.com
[1] Lihat: al-Mubarakfuri, Syaikh Safiyy al-Rahman, al-Rahiq al-Makhtum, Beirut : al-Maktabah al-Thaqafiyyah, h77.
[2] Al-Dimisyqi, Ibn Kathir, al-Bidayah wa al-Nihayah, Beirut : Dar al-Fikr, 3/6.
[3] Ibn Hisyam, al-Sirah al-Nabawiyyah,1/239-240.
[4] Lihat: al-Rahiq al-Makhtum, h.77
[5] Imam Ahmad,al-Musnad , Beirut : al-Maktab al-Islami 4/107, al-Baihaqi , al-Sunan al-Kubra 9/188, al-Tabarani, al-Mu’jam al-Kabir, No 185. Al-Tabari, Ibn Jarir, Jami’ al-Bayan ‘an Ta’wil Ayi al-Qur’an, ( Tahqiq: Ahmad Shakir ),al-Qahirah: Dar al-Ma’arif, 3/446, Al-Albani, Silsilah al-Ahadith al-Sahihah, No 1575. Lihat : Yasin, Dr. Hikmat Bashir,( 1994 ), Marwiyyat al-Imam Ahmad Bin Hanbal Fi al-Tafsir, Riyadh: Maktabah al-Muayyad, 1/128.
[6] Al-‘Asqalani, Ibn Hajar,( 1988 ), Fath al-Bari, al-Qahirah: Dar al-Rayyan li al-Turath 8/621.
[7] Al-Tabari, Jami’ al-Bayan 3/445.
[8] Al-Qurtubi, Muhammad Bin Ahmad al-Ansari, al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an, Beirut: Muassasah Manahil al-‘Irfan 2/198
[9] Al-Dimisyqi, Ibn Kathir, ( 2004 ),Tafsir al-Qur’an al-‘Azim, Riyadh: Dar ‘Alam al-Kutub, 2/180, lihat juga: 14/411
[10] Lihat: al-Bidayah wa al-Nihayah, 3/6
[11] Al-Albani, Muhammad Nasiruddin,( 1421 H ), Sahih al-Sirah al-Nabawiyyah, Amman : al-Maktabah al-Islamiyyah, h.90
[12] Al-Baghdadi, al-Khatib, Tarikh Baghdad, 3/31, al-Zahabi, Muhammad Bin Ahmad Bin Uthman, ( 1992 ), Siyar A’lam al-Nubala’,Beirut : Muassasah al-Risalah, 9/454, 469, Ibn Abi Hatim, al-Jarh wa al-Ta’dil, 8/20
[13] Lihat: Manahil al-‘Irfan, 1/52
sumber: Laman web Ustaz Abdul Basit

قال تعالى:الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلاَةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ {3} وَالَّذِينِ يُؤْمِنُونَ بِمَا أُنزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ وَبِاْلآخِرَةِ هُمْ يُوِقنُونَ {4} أُولَـئِكَ عَلَى هُدًى مِن رَبِّهِمْ وَأُولَـئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ{5}
Syarah Kalimat
يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ
Mereka membenarkan dengan pembenaran yang pasti (jazim) setiap yang ghaib yang tidak dapat di gambarkan dengan panca indera seperti beriman dengan ar-Rabb Tabaraka Wata’ala sebagai zat dan sifat, para Malaikat, hari kebangkitan, serta syurga beserta kenikmtan yang ada di dalamnya dan neraka beserta ‘azab yang ada di dalamnya.
وَيُقِيمُونَ الصَّلاَةَ
Melaksanakan shalat lima waktu secara berterusan pada waktu-waktunya (yang di telah di tentukan) di sertai perhatian penuh terhadap syarat-syaratnya, rukun-rukunnya, sunnah-sunnahnya dan nafilah-nafilahnya serta lain-lainnya.
وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ
Dari sebahagian harta yang di anugerahkan oleh Allah kepada mereka, mereka infaqkan yaitu dengan mengeluarkan zakat harta, infaq terhadap jiwa mereka, isteri-isteri, anak-anak, dan kedua orang tua serta dengan bersedekah kepada orang-orang faqir dan miskin.
يُؤْمِنُونَ بِمَا أُنزِلَ إِلَيْكَ
Mereka membenarkan wahyu yang di turunkan kepada engkau wahai Rasul yaitu : al-Kitab dan as-Sunnah.
وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ
Dan mereka membenarkan kitab-kitab yang di turunkan oleh Allah Ta’ala kepada para Rasul sebelum kamu seperti Taurat, Injil dan Zabur.
وَبِاْلآخِرَةِ هُمْ يُوِقنُونَ
Dan dengan kehidupan di Akhirat dan hisab, pahala, serta seksaan yang ada di dalamnya mereka mengetahui dan meyakininya; mereka tidak meragui sedi kitpun serta tidak bimbang dengannya kerana keimanan mereka yang sempurna dan ketaqwaan mereka yang besar.
أُولَـئِكَ عَلَى هُدًى مِن رَبِّهِمْ
Kata tunjuk/isyarat (أولئك) di tujukan kepada orang-orang yang memiliki lima sifat sebelumnya dan memberitakan tentang mereka bahawa mereka, dengan keimanan dan amal shalih yang merupakan sebahagian daripada hidayat Allah kepada mereka, mampu beristiqamah dalam manhaj Allah yang akhirnya membawa mereka kepada kemenangan.
وَأُولَـئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
Kata tunjuk/isyarat (أولئك) di tujukan kepada orang-orang yang mendapat hidayat secara penuh dan memberitakan tentang mereka bahawa merekalah orang-orang yang mendapatkan kemenangan, yang layak untuk mendapatkan kemenangan tersebut, yaitu masuk syurga setelah selamat dari neraka.
Makna ayat
Allah Ta’ala menyebutkan dalam ketiga ayat ini sifat al-Muttaqin (orang-orang yang bertaqwa) yaitu ; beriman kepada hal yang ghaib, mendi rikan shalat, membayar zakat, beriman kepada kitab-kitab yang di turunkan oleh Allah dan beriman kepada Darul Akhirat. Allah memberitahu kepada mereka bahawa mereka, lantaran hal itu semua, mendapatkan sesempurna hidayat dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang mendapatkan kemenangan di dunia dengan kesucian dan ketenangan dan kemenangan di Akhirat dengan masuk ke dalam syurga setelah selamat dari neraka.
Petunjuk Ayat
Di antara petunjuk ayat di atas :
Mengajak kaum Mukminin agar mereka bersifat dengan sifat-sifat orang-orang yang mendapatkan hidayat dan kemenangan agar mereka boleh mengambil jalan yang mereka tempuh sehingga mereka mendapatkan hidayat tersebut dan mendapatkan kemenangan di dunia dan akhirat.

Ertinya : Alif laam miim , Kitab (al-Qur'an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa.
Mukadimah
Terdapat hadis yang sahih mengenai keutamaan surah Al-Baqarah di antaranya ; Dari Abu Umamah al-Bahili RA, sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi Wasallam :
Ertinya : “ Bacalah surah Al-Baqarah, kerana sesungguhnya mengambilnya (untuk di baca dan di amalkan) mengandungi keberkahan dan meninggalkannya adalah penyesalan sedangkan para penyihir tidak mampu melawannya “. (Tafsir al-Baghawi, al-Albani mensahihkannya di dalam Sahih al-Jami’:1165, ruju: www.dorar.net)
Begitu juga di riwayatkan oleh Imam At-Tirmizi bahawa Rasulullah Shallallahu 'alaihi Wasallam bersabda :
Ertinya : “ Janganlah kalian jadi kan rumah-rumah kalian sebagai kuburan, sesungguhnya syaithan lari/kabur dari rumah yang di dalamnya di bacakan surah Al-Baqarah “.
Syarah/Keterangan
Dalam kaitannya dengan ini, di riwayatkan dari Abu Bakar dan Ali –radhiallahu ‘anhuma- begitu juga dari ‘Amir asy-Sya’bi dan Sufyan ats-Tsauri, mereka semua berkata : “Huruf-Huruf muqaththa’at adalah rahsia Allah dalam Al-Quran dan dalam setiap kitabNya terdapat rahsiaNya. Huruf-Huruf tersebut adalah termasuk ayat mutasyabih yang hanya Dia lah yang mengetahuinya. Oleh kerana itu, tidak selayaknya kita membicarakan apa yang ada di dalamnya tetapi kita mesti mengimaninya”.
Sebahagian Ahlul ‘ilm mengeluarkan dua faedah (dari makna yang tersembunyi) :
Pertama, bahawa ketika orang-orang Musyrikun melarang (kaumnya) mendengar Al-Quran kerana takut hal itu boleh member pengaruh terhadap jiwa orang-orang yang mendengarnya, maka yang di ucapkan pertama kali (kepada mereka) adalah huruf-huruf حم , طس , ق , كهيعـص , dan ini bagi mereka adalah ucapan yang masih asing yang dapat menarik mereka untuk mendengar Al-Quran sehingga (tatkala) mereka mendengarnya, mereka terpengaruh, terkesima lantas beriman dan mendengarnya, dan hal ini sudah cukup sebagai faedah yang dapat di ambil.
[Adapun dalil bahawa mereka melarang kaum mereka mendengar Al-Quran adalah firman Allah Ta’ala dalam surah Fushshilat (وقال الذين كفروا لا تسمعوا لهذا القرآن والغوا فيه لعلكم تغلبون)].
Kedua, tatkala orang-orang Musyrikun mengingkari Al-Quran sebagai Kalamullah yang di wahyukan kepada RasulNya, Muhammad Shallallahu 'alaihi Wasallam, maka huruf-huruf ini menjadi tentangan (serius) bagi mereka seakan-akan ia (huruf-huruf tersebut) berkata kepada mereka : “Sesungguhnya Al-Quran ini tersusun dari huruf-huruf seperti ini, maka susunlah/karanglah oleh kalian sepertinya”. Makna dari faedah kedua ini biasanya di saksikan (di benarkan) oleh penyebutan lafaz Al-Quran setelahnya seperti :
(الم. ذلك الكتاب ) , (الر. تلك آيات الكتاب), (طسم. تلك آيات القرآن).. seakan-akan ayat-ayat seperti itu berkata : “Sesungguhnya Al-Quran tersusun dari huruf-huruf seperti ini maka susunlah/karanglah oleh kalian semisalnya, jika kalian tidak mampu maka hendaknya kalian menerima bahawa sesungguhnya ia (Al-Quran) adalah Kalamullah dan wahyuNya dan berimanlah kepadanya nescaya kalian akan mendapatkan keuntungan”.
Syarah perkata
ذلك : maksudnya ; هذا (Ini), namun kenapa lafaz هذا di tukarkan kepada (erti) lafaz ذلك kerana isyarat dengan لام البعـد mengandung pengertian tingginya kedudukan (المنزلة) dari Al-Quran, darjat serta harkatnya (القدر والشأن).
الكتاب : maksudnya Al-Quran Al-Karim yang di bacakan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi Wasallam kepada manusia.
[Lafaz الكتاب di ertikan (dalam banyak erti, di antaranya) dengan الفرض (kewajipan) seperti dalam ayat كتب عليكم الصيام yang ertinya ; telah di wajibkan kepada kamu berpuasa.
Juga di ertikan dengan العقد بين العبد وسيده (perjanjian antara seorang hamba dan tuan/majikannya) seperti dalam ayat والذين يبتغون الكتاب yang ertinya ; dan orang-orang yang menginginkan perjanjian/akad.
Lafaz tersebut di ertikan juga dengan القدر (takdir) seperti dalam ayat كتاب الله ertinya ; takdir dan qadhaNya ].
لا ريب : ertinya لا شك maksudnya ; tidak di ragukan lagi bahawasanya ia (Al-Quran) adalah wahyu Allah dan KalamNya yang di wahyukan kepada RasulNya.
فيه هدى : petunjuk ke arah jalan yang dapat membawa kepada kebahagiaan dan kesempurnaan di dunia dan akhirat.
للمتقين : bagi orang-orang yang bertaqwa, maksudnya orang-orang yang takut azab Allah dengan berbuat taat kepadaNya ; menjalankan perintah-perintahNya dan menjauhi larangan-laranganNya.
Makna ayat secara keseluruhan
Allah Ta’ala memberitahu bahawa Al-Quran yang di turunkanNya kepada hamba dan RasulNya adalah merupakan kitab yang sangat besar dan agung yang sama sekali tidak mengandung ikeraguan dan dugaan bahawa ia adalah bukan wahyu Allah dan kitabNya. Hal itu di sebabkan ia adalah sebagai mukjizat, di samping petunjuk dan cahaya yang di bawanya bagi orang-orang yang beriman dan bertaqwa hal mana dengan keduanya (iman dan taqwa) dapat membawa mereka kepada jalan-jalan kedamaian, kebahagiaan dan kesempurnaan.
Petunjuk ayat
Di antara petunjuk ayat di atas adalah :
Agar memperkuatkan iman kepada Allah Ta’ala, kitabNya dan RasulNya serta ajakan agar mencari hidayah melalui Al-Quran Al-Karim.
Menjelaskan keutamaan taqwa dan orang-orang yang bertaqwa.
http://alsofwah.or.id/index.php?pilih=lihatquran&id=5


